PERJUMPAAN DENGAN ISLAM
“Indonesia is far from
being homogeneous; it has a long and rich history of religious diversity. This
diversity draws from Indonesia’s history of trade, immigration, European
colonization, and
Indonesia's recent
post-colonial political history, all of which contribute to
an environment of dynamic
interaction between different cultures and religions.”[1]
Pengantar
Salah satu faktor lahirnya kekristenan di bumi
Nusantara tidak terlepas dari peran penjajah: Portugis, Spanyol, dan Belanda.
Kisah kelahiran bermula ketika Portugis berhasil mencapai benua Asia (India)
dari arah Barat pada tahun 1498 dan Spanyol (Filipina) dari arah Timur sekitar
tahun 1520. Kedua negara ini bertemu di kawasan
timur Nusantara (Maluku Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan
kepulauan Sangir-Talaud) pada 1521.[2] Salah satu isu yang kemudian muncul adalah bagaimana kekristenan
(yang dibawa oleh Portugal, Spanyol, dan nantinya Belanda) ini berjumpa dengan
agama Islam yang terlebih dahulu ada di Nusantara.
Di dalam tulisan ini, kelompok akan mencoba membahas tema mengenai perjumpaan
Kristen dengan Islam. Perjumpaan dengan Islam kami maknai bukan sebagai sebuah
peristiwa dalam rangkaian sejarah Gereja Indonesia, melainkan rangkaian
peristiwa yang tersebar ke dalam setiap tahap perkembangan sejarah Gereja
Indonesia. Oleh karena itu, kami mencoba untuk menemukan perjumpaan-perjumpaan
antara Kristen dengan Islam di dalam sejarah panjang pergumulan dan
perkembangan Gereja Indonesia. Periode waktu yang kami ambil adalah
rentang waktu dari abad ke-13 hingga saat kini.
Sistematika tulisan akan dimulai
dengan pemaparan latar belakang perjumpaan Kristen dan Islam. Latar belakang akan dibagi menjadi dua, yakni suasana
Nusantara pada abad ke-13 dan perjumpaan Kristen dan Islam di luar Nusantara.
Setelah itu, kelompok akan membahas motif dan pengaruh kedatangan agama Kristen
(Katolik) di Nusantara. Di lain pihak, kelompok juga kemudian akan melihat
bagaimana reaksi masyarakat lokal (Islam) terkait kehadiran agama Kristen
(Katolik). Pembahasan akan dilanjutkan dengan melihat perjumpaan Kristen dan
Islam di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dari perjalanan panjang sejarah
perjumpaan Kristen dan Islam ini, di bagian akhir tulisan kelompok akan mencoba
menemukan kontribusi studi ini bagi proses pembelajaran Sejarah Gereja
Indonesia dan memetik nilai berharga apa yang perlu diperjuangkan ke depannya.
Suasana Nusantara pada Abad ke-13
Di dalam sub judul tulisan ini kami akan memaparkan situasi atau compositio loci terutama dalam kaitannya
dengan agama yang ada di wilayah Nusantara pada abad ke-13. Pada abad ke-13, agama
Islam dibawa masuk ke Indonesia oleh pedagang Indonesia dari wilayah Cambay,
Gujarat, India Barat.[3] Corak penyiaran agama Islam
di Indonesia saat itu dilakukan melalui jalur perniagaan. Perniagaan menjadi
salah satu cara yang efektif sebab di sanalah terdapat perjumpaan antara
pedagang dengan pembeli lokal. Meskipun intensi awal adalah berdagang, namun
tidak dipungkiri bahwa ada satu atau dua pembicaraan terkait dengan agama. Dari
sanalah benih-benih keagamaan tersebar dan menarik minat orang-orang lokal.
Selain itu, satu cara penyebaran cepat lain yang dilakukan para saudagar
Islam adalah dengan cara ikatan perkawinan. Perkawinan antara saudagar Islam
dengan puteri-puteri bangsawan lokal menandakan sebuah perjanjian damai di
antara kedua belah pihak. Para raja lokal dengan sadar memeluk agama Islam,
sebab mereka memiliki keinginan untuk dapat menaklukkan jajahan lain melalui
jalur agama. Dengan demikian, sebuah simbiosis mutualisme yang terjadi
mempercepat penyebaran agama Islam di Nusantara.
Beberapa bukti terkait keberhasilan penyebaran agama Islam dapat dilihat
dari masyarakat di beberapa daerah yang sudah melakukan shalat dan mengucapkan syahadat Islam. Beberapa daerah itu misalnya
Ternate dan Maluku. Meski demikian, apabila ditarik lanskap yang lebih luas
(tidak hanya daerah pelabuhan atau pesisir pantai), tetap ada daerah-daerah
yang masih menganut agama Hindu. Daerah-daerah tersebut terutama berada di
pedalaman yang jauh dari jangkauan para pedagang/saudagar Islam.
Kerajaan dan daerah yang masih menganut agama Hindu akhirnya dapat
bertahan hanya sampai sekitar pertengahan abad ke-16. Sekitar pertengahan abad
ke-16, sejumlah penduduk dan kerajaan di pedalaman Jawa sudah memeluk agama
Islam. Kerajaan-kerajaan yang dipengaruhi agama Hindu dan Budha sudah tidak
bereksistensi lagi dalam kancah sejarah Indonesia, seperti misalnya kerajaan
Majapahit yang lenyap pada tahun 1487.
Penyebaran dan terutama pengakaran agama Islam yang terjadi kemudian sebenarnya
juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh para wali yang berjumlah 9 (sembilan),
yang biasa disebut wali songo.[4] Para wali songo adalah teladan sekaligus pengkotbah ajaran-ajaran agama
Islam sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh masyarakat sekitar.
Overview Perjumpaan Kristen dan Islam di
Luar Nusantara
Anthony Reid, seorang sejarahwan
kelahiran Selandia Baru yang menguasai sejarah Asia Tenggara, mendukung teori
Bertram Johannes Otto Schrieke. Ia mengatakan bahwa pada sekitar abad ke-16,
polarisasi antara agama-agama global (polarisation
between global religions) dan meningkatnya sekat-sekat religius (the rise of religious boundaries),
secara khusus antara Islam dan Kristen menjadi latar belakang suasana saat itu.
Meningkatnya polarisasi tersebut disebabkan karena adanya “perlombaan” di
antara mereka untuk mempertobatkan banyak orang. Schrieke sendiri melanjutkan
bahwa perjumpaan antara Islam dan Kristen sendiri banyak dipenuhi dengan
kekerasan (harsh and violent encounters).
Konflik antara mereka jelas disebabkan bukan hanya karena masalah agama, tetapi
juga politik dan kepentingan ekonomi.[5]
Kedatangan Portugis di India tahun
1498 membuka sebuah perjumpaan dua entitas agama, yakni Islam dan Kristen.
Dalam satu sisi, Islam, selama ratusan tahun, menjadi penguasa perdagangan
tanpa kompetitor di kawasan Samudera Hindia. Mereka percaya bahwa kepentingan
merekalah untuk melenyapkan segala musuh, secara khusus kafir atau orang Eropa yang tidak berkepercayaan (unbelieving Europeans). Di lain sisi, orang
Kristen Portugis melihat orang Muslim sebagai musuh “alami” mereka. Sudah bukan
rahasia lagi bahwa di antara Portugis conquistadores
dan orang Muslim terdapat permusuhan yang diwariskan dari perang abadi antara
Islam dan Kekristenan.
Portugis kemudian memulai misi
“suci” mereka untuk melenyapkan sebanyak mungkin orang Muslim dari muka bumi
ini. Misi ini mereka dasarkan dari keyakinan mereka sendiri akan adanya
“privilese yang mengijinkan mereka, yang didapat melalui berkat dari Tuhan” (a privilege allowed them through an
extraordinary blessing of God). Maka, pada awal tahun 1500, Portugis
menyerang semua kapal pedagang Muslim di laut terbuka, termasuk kapal Mamluk
Sultan Mesir. Mereka juga mengejar, merampas, dan membunuh semua kru dan
penumpang “kapal Mekkah”, sebuah kapal besar Muslim yang membawa jemaah haji.[6]
Motif Kedatangan
Spanyol dan Portugis (Katolik) ke Indonesia
Pada awal abad ke-16, sebuah fakta
yang patut dicatat adalah kedatangan orang-orang Barat ke Indonesia. Orang
Barat dalam konteks ini diasosiasikan dengan orang-orang yang beragama Kristen (Christian), khususnya Spanyol dan
Portugis.[7]
Orang-orang Spanyol dan
Portugis datang ke Nusantara pertama-tama karena dilatarbelakangi keinginan melakukan
ekspansi politis. Ekspansi politis yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu
yang saat itu sedang “naik daun” di kalangan bangsa-bangsa Eropa Barat, yakni
menemukan wilayah-wilayah baru di dunia ini. Portugis dan Spanyol adalah dua
negara yang melakukan hal itu untuk pertama kalinya. Mengapa demikian? Sebab
pada saat itu, kedua negeri itu sedang berada di puncak kekuasaan mereka.
Meski, tidak dipungkiri bahwa semangat zaman itu juga menyertakan penyebaran
agama di dalam setiap perjumpaan di daerah yang baru. Negara Portugis dan
Spanyol adalah pemeluk agama Katolik Roma, maka agama yang mereka bawa adalah
agama Katolik Roma.
Motif lain yang menggerakkan kedatangan Spanyol dan Portugis adalah
untuk mencari komoditas perdagangan. Salah satu komoditas yang dicari adalah
rempah-rempah, sebab Nusantara sangat kaya akan rempah-rempah. Komoditas ini
banyak dibutuhkan terutama oleh negara yang berada dalam daerah 4 musim. Dengan
sampai ke wilayah Nusantara, Portugis dapat langsung mendatangi dan berhubungan
dengan para penghasil rempah-rempah tanpa perantara. Lebih fantastiknya lagi,
mereka dapat memonopoli perdagangan rempah-rempah.
Selain motif politis kekuasaan dan komoditas perdagangan, motif religius
kedatangan bangsa kulit putih dapat terbaca dari usaha mereka melakukan
kristenisasi di Indonesia. Ada kesan sangat kuat saat itu bahwa
kekristenan dan Islam tidak dapat hidup berdampingan dengan damai. Kedatangan
orang kulit putih di perairan Indonesia dapat ditafsirkan sebagai salah satu
usaha “balas dendam” akibat kekalahan atau ketidakberhasilan umat Katolik
mempertahankan Tanah Suci dari umat Islam. Mereka ingin menusuk basis Islam di Nusantara
dan sekaligus menutup kemungkinan penyebaran agama Islam di daerah yang mereka
kuasai.
Kristenisasi yang dilakukan Portugis dan Spanyol ini
sekaligus juga merupakan bentuk perwujudan mandat Paus, pemimpin tertinggi
Gereja Katolik Roma, untuk memelihara Gereja, mendukung usaha penyebaran Injil
dan iman kristiani kepada umat yang mereka jumpai.[8]
Mandat ini tertuang dalam bulla (maklumat)
Paus Alexander VI pada 4 Mei 1493 dan Perjanjian Tordesillas 9 Juni 1494.
Hubungan antara Gereja Katolik Roma dengan kedua negara ini biasanya
diungkapkan dengan istilah padroado
(Portugal) dan patronato (Spanyol)
yang kurang lebih berarti: negara majikan atau pelindung gereja. Pendek kata,
kedua negara ini mengemban tiga misi: berdagang, menaklukkan wilayah, dan
menyiarkan agama yang sering juga diungkapkan dengan istilah Gospel, Gold and Glory.[9]
Ketiga misi yang diemban
ini mendorong sejumlah imam atau rohaniwan katolik, seperti para Fransiskan,
Augustinian, dan Jesuit untuk turut serta dalam ekspedisi Portugis dan Spanyol.
Pada umumnya, mereka bertugas sebagai penjamin reksa pastoral-rohani.[10]
Di samping itu, mereka juga mewartakan Injil dan membaptis penduduk pribumi.
Sejak saat itu, kontinyuitas kehadiran kekristenan di Nusantara terus
dipertahankan hingga sekarang.
Pengaruh Kedatangan Agama Kristen (Katolik)
di Indonesia
Kedatangan Portugis di Indonesia senyatanya membawa beberapa pengaruh
bagi masyarakat lokal, terutama dalam rangka perjumpaan dengan mereka yang
beragama Islam. Pengaruh ini terlihat dalam berbagai bidang kehidupan, antara
lain politik, sosial, kultural, ekonomi, dan religiusitas. Hal ini
mengindikasikan bahwa kedatangan Portugis tidak terasa “lewat” begitu saja,
tetapi menorehkan jejak tersendiri di dalam kehidupan masyarakat Nusantara saat
itu.
Di dalam bidang politik, kedatangan agama Kristen jelas memiliki
pengaruh yang lebih besar terhadap dinamika politik Nusantara (Indonesia) pada
zaman kerajaan. Ada satu peristiwa penting yang patut dicatat dalam
sejarah terkait hal ini. Pembaptisan
pertama di Halmahera terjadi atas dasar alasan politik. Kepala suku Mamuya dan
Tolo beserta rakyatnya dibaptis oleh Pastor Portugis. Alasan pembaptisan
tersebut adalah karena Portugis hanya akan melindungi rakyat yang beragama
Katolik. Demi alasan tersebut, maka relalah kedua kepala suku tersebut
dibaptis. Efeknya, masyarakat yang sudah beragama Katolik itu diperlakukan
secara lebih layak oleh pemerintah Ternate karena mereka dilindungi oleh
Portugis.[11]
Secara sosial, pembaptisan yang
tergolong awal itu juga mengorbankan perpecahan. Sebagai bukti, Don Joao
kehilangan sanak saudaranya dalam pertempuran dengan masyarakat Islam. Don Joao
adalah ketua suku Mamuya yang banyak berkorban supaya rakyatnya tetap
mempertahankan iman Kristennya. Apalagi, sebelum Islam dan Kristen datang,
memang sudah banyak terjadi kekisruhan antar suku di berbagai belahan
Nusantara. Di Ternate dan
Tidore bahkan para pemimpin Islam melarang siapapun bergaul dengan imam-imam
Kristen. Di samping itu, masyarakat yang berubah keyakinan menjadi
Kristen, akan diambil harta bendanya.[12]
Dalam hal kultural, kehadiran
orang-orang Portugis memungkinkan Islam di Indonesia berkontak dengan dunia dan
budaya Eropa sebagai suatu hal yang baru bagi mereka. Salah satu kultur baru
yang diterima oleh masyarakat lokal Islam adalah tentang senjata. Masyarakat
lokal biasa membawa keris, parang, lembing, busur dan anak panah, dan sawalako,
yaitu perisai kayu berbentuk panjang yang dihiasi dengan ukir-ukiran yang dicat
hitam dan putih. Akan tetapi, kedatangan Portugis dan Spanyol membuat mereka
mengenal adanya senjata api.
Kedatangan Portugis di Nusantara berarti
juga ditanamkannya Gereja Kristus di Indonesia yang bersamaan pula dengan
dimulainya era imperialisme dengan segenap monopolinya, terutama di bidang
perekonomian. Dari dampak ini
segera dapat terlihat bahwa kedatangan Portugis di Indonesia menimbulkan
seperangkat ketegangan. Malaka, pusat perdagangan Asia Tenggara, telah
ditaklukkan dan diubah oleh Portugis menjadi pusat kekuasaan Portugis. Dari Malaka, Portugis leluasa bergerak ke
daerah sumber penghasil rempah-rempah yaitu Maluku.[13]
Sebagai catatan kritis, pengaruh dalam hal ekonomi (perdagangan komoditas,
utamanya rempah-rempah) ini seringkali dicampurbaurkan dengan pengaruh dalam
bidang religiusitas/keagamaan. Sebenarnya, yang saling bertentangan dalam hal
ini bukanlah pertama-tama dua umat beragama, melainkan dua golongan pedagang
yang kebetulan berlainan agama.
Kedatangan Portugis diterima dengan baik oleh Sultan Ternate. Bahkan,
Sultan Ternate mengizinkan pendirian benteng Portugis di Ternate. Dengan
demikian, Ternate tidak hanya menjadi tempat yang strategis bagi Portugis untuk
menjalankan misi ekspansi politis, pencarian komoditas, tetapi sekaligus juga
penyebaran keagamaan. Kedua pihak sama-sama mendapatkan keuntungan. Sultan
Ternate mendapatkan keuntungan dari perluasan wilayah kekuasaan dan monopoli
perdagangan yang dibantu Portugis, sedangkan Portugis mendapatkan keuntungan
dari penyebaran agama Katolik. Tidak dapat dipungkiri bahwa tersebarnya agama
baru (Katolik) menjadi salah satu pengaruh dari kedatangan Portugis di
Nusantara.
Reaksi Islam terhadap Kedatangan Agama Katolik
Islam memiliki tiga abad untuk
berkembang dan berakar di masyarakat Indonesia, sebelum kolonialisme nantinya datang. Kedatangan Portugis di abad ke-16 bersama
misi penyebaran agama, bukannya menurunkan minat iman terhadap Islam tetapi nyatanya
malah mempercepat proses Islamisasi Indonesia. Laju Islam semakin tangguh,
cepat, dan agresif.[14]
Ada gerakan Islam besar-besaran dari bangsawan Indonesia yang memeluk Islam, Islam dipandang sebagai pralambang
perlawanan terhadap penetrasi Barat.[15]
Islam sudah memiliki fondasi kuat selama tiga abad sehingga iman tauhid tidak mudah terhapus oleh
misi-misi iman barat.
Penyebaran agama Katolik dengan demikian tidak serta-merta berjalan lancar
begitu saja. Kedatangan Portugis di Indonesia juga menimbulkan perselisihan
dengan para pedagang Islam. Dalam rangka perjumpaan dengan
agama Kristen dan penganutnya, ada dua faktor yang berkelindan di dalam diri
umat Islam, yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksud
adalah reaksi yang disebabkan oleh hal-hal yang berada dari dalam diri sendiri.
Sebagai catatan, situasi keagamaan saat itu sangatlah pelik. Banyak umat Islam yang baru memeluk agama Islam (dan di sisi lain orang
Portugis belum lama membebaskan diri dari penjajahan Arab). Pengetahuan mereka
tentang ajaran Nabi sedikit sekali, sedangkan pengajar mereka masih sedikit
jumlahnya dan tidak berpendidikan (yaitu para haji yang kebanyakan orang asing).
Daging babi
mereka tolak mati-matian, tetapi tuak dan arak mereka suka sekali. Kepercayaan
akan hantu merupakan hal yang umum dan seumur hidup mereka, mereka masih sangat
dipengaruhi oleh takhayul-takhayul kafir yang lama. Fenomena-fenomena
seperti ini jelas menunjukkan betapa masih mudanya iman mereka.
Benih awal ini kemudian
digerus oleh faktor eksternal, yakni datangnya paham-paham tertentu tentang
agama Kristen. Rupanya, di dalam diri umat Islam (paling tidak di kalangan
tokoh dan penyebarnya) telah terdapat paham tertentu tentang kekristenan, baik
yang berasal dari Al-Quran dan Hadits, maupun kisah-kisah perjumpaan antara
Kristen dan Islam di seputar Laut Tengah, termasuk cerita tentang perang salib.
Pemahaman atau pengenalan atas kekristenan itu umumnya negatif. Kedatangan
Barat sejak abad ke-16 sambil mengibarkan panji-panji Kristen (termasuk tanda
salib di bendera kapal-kapal dagangnya), yang sering mendatangkan kerugian
ketimbang keuntungan bagi masyarakat dan kerajaan Islam, membuat gambaran
negatif tentang kekristenan itu semakin kental.
Beberapa daerah Islam dan pedagang Islam lantas bersekutu untuk
memusuhi para pendatang tersebut. Skema kerja permusuhan dirancang
sederhana yakni Islam-pribumi-jajahan menentang Kristen-asing-penjajah. Sungguh, slogan ini sangat merugikan
Portugis. Slogan ini menjadi pendongkrak semangat untuk menentang Portugis. Para
penentang ini berusaha merebut kembali Malaka. Skema dan slogan demikian
nantinya akan menjadi semacam dosa warisan, sebab agama Kristen
diasosiasikan dengan para penjajah. Kaitan (yang sebenarnya tidak sahih) antara
imperialisme dan Kristen menjadi sulit dipisahkan dan dihapuskan dari persepsi
umat Islam. Asosiasi ini menjadi rentan muncul ketika konflik antara Kristen
dan Islam di masa depan terjadi.
Islam sendiri tidak disebut
sebagai pro-Arab, karena akar yang bertahan selama tiga abad sebelum kedatangan Kekristenan.
Islam datang dengan damai melalui jalur perdagangan Arab dan India yang
beragama Islam. Islam benar-benar melakukan penetrasi ke dalam masyarakat marjinal
pada zamannya dengan prinsip egaliter.[16]
Islam berhasil merangkul masyarakat yang terbuang dari kasta.[17]
Islam benar-benar merasuk ke dalam alam pikir masyarakat Indonesia, sehingga
Islam menjadi bagian dari Indonesia. Oleh karena itulah, Islam tidak mendapat
cap pro-Arab.
Meski demikian, usaha ini tidak berjalan mulus. Mengapa ? Sebab tidak
semua daerah non-Islam ingin menjadi taklukkan kerajaan Islam. Wilayah-wilayah
tersebut tetap mau mempertahankan kebebasan mereka. Salah satu cara
mempertahankan kebebasan mereka adalah dengan cara bekerjasama dengan Portugis
untuk menghadapi Islam. Suasana seperti ini jelas menimbulkan ketegangan
tersendiri sebab penyebaran ajaran Kristus harus berjumpa dengan pertumpahan
darah akibat konflik di antara kedua pihak yang ingin memperjuangkan
keinginannya masing-masing.
Perjumpaan dengan Islam di Era Perjuangan
Kemerdekaan
Ketegangan antara kedua agama (Katolik dan Islam) tersebut sedikit
berkurang pada periode 1900-an, di mana gerakan-gerakan untuk memerdekakan
Indonesia sedang gencar terjadi. Tahun 1900-an adalah tahun di mana kesadaran
orang-orang Indonesia untuk melepaskan diri dari pengaruh dan penguasaan
penjajah mulai bangkit. Banyak yang mulai membentuk perkumpulan atau organisasi,
bahkan tidak sedikit yang memasuki bidang politik. Berbagai
macam partai mulai berdiri pada periode ini, tidak terkecuali perkumpulan
ataupun partai yang bernafaskan agama. Salah satu perkumpulan ini dikenal
sebagai Sarekat Islam.
Sarekat
Islam dibentuk pada 16 Oktober 1905, sehingga sering dianggap sebagai
organisasi pertama di Indonesia (saat pertama dibentuk bernama Sarekat Dagang
Islam). Pembentukan organisasi ini bertujuan untuk memenuhi aspirasi dan
meluaskan gerakan umat Islam. H.O.S. Tjokroaminoto, selaku pemimpin SDI saat
itu, kemudian memiliki gagasan untuk menghilangkan kata “Dagang” dalam nama
organisasi mereka agar dapat bergerak di berbagai bidang, bukan hanya perdagangan.
Dalam perkembangannya, Sarekat Islam mendapatkan kursi di Volksraad (Dewan Rakyat) dan kemudian memiliki sikap sentimen
terhadap kaum zending (misionaris),
yang notabene merupakan orang-orang
barat (Belanda) dan beragama Katolik atau Kristen. Hal ini memiliki dampak
berupa ketegangan antara organisasi Islam dan Katolik yang jumlahnya semakin
menjamur sebelum kemerdekaan, namun kembali sedikit berkurang saat para pemuda
mengikrarkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928.
Pada
tahun 1939, dunia diguncangkan dengan Perang Dunia kedua yang dimulai dengan
invasi Jerman ke Polandia. Negara Belanda sendiri diduduki Jerman pada tahun
1940, sehingga semakin melemahkan kedudukan dan kekuasaan pemerintah Hindia
Belanda. Jepang sebagai sekutu Jerman mulai menyerang wilayah Hindia Belanda
pada tahun 1942, dimulai dengan Tarakan di Kalimantan dan sampai akhirnya
seluruh wilayah Hindia Belanda dikuasai mereka.
Pada masa awal pendudukan
Jepang, rakyat Indonesia tidak melawan mereka, melainkan menyambut dengan suka
cita. Lambat laun, perasaan ini berubah seiring dengan kebijakan-kebijakan Jepang
yang membuat rakyat sadar bahwa mereka kembali dijajah. Pada masa awal
pendudukan Jepang ini pergolakan politik yang berbau agama tidak banyak, karena
Jepang sendiri tidak menaruh banyak perhatian dalam bidang politik. Barulah di
saat tahun-tahun terakhir perang, Jepang baru memberi perhatian untuk merebut
hati bangsa Indonesia agar membantu mereka dalam perang. Cara-caranya adalah
dengan membiarkan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Persiapan kemerdekaan
ditandai dengan dimulainya kembali perselisihan pandangan mengenai pemeluk
agama Islam dengan Katolik. Perselisihan paham banyak terjadi dalam perumusan
dasar negara, pembentukan hukum, ideologi, dan berbagai hal lainnya. Banyak
tokoh Islam yang memiliki pandangan bahwa negara Indonesia selayaknya menjadi
negara Islam, karena kebanyakan penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Hal ini
tentu saja ditentang oleh tokoh-tokoh non-Islam, terutama dari golongan Katolik-Kristen
yang lebih menyetujui bahwa Indonesia lebih baik menjadi negara demokratis.
Setelah perumusan dasar
negara selesai dan negara Indonesia lahir, masalah kedua agama ini belum
berakhir, meski telah berkurang jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Untuk
pertama kalinya pemeluk kedua agama dapat bersatu dan merasakan suka cita
karena berhasil merdeka dan lepas dari penjajahan. Hal
itu tentu saja berubah dengan kedatangan Belanda bersama Inggris tepat setelah
Perang Dunia berakhir pada 1945.
Kontribusi bagi Sejarah Gereja
Indonesia: Saling Merangkul, Bukannya Meniadakan
Sebuah sejarah secara de facto merupakan rangkaian peristiwa
yang telah terjadi di masa lampau. Akan tetapi, sejarah bukanlah sesuatu yang
“mati”. Sejarah dapat menjadi media pembelajaran dan refleksi bagi masyarakat
untuk melanjutkan proses perjalanan hidup ke depannya. Dengan kata lain,
pembelajaran sejarah masa lalu menjadi bekal bagi masyarakat untuk menorehkan
sejarah hidup bersama yang baru, yang tentu lebih baik daripada sebelumnya.
Bagaimana dengan sejarah perjumpaan
umat Kristen dan Islam di Indonesia? Di dalam perjumpaan umat Kristen dan
Islam, mulai dari kedatangan umat Kristen pada tahun 1600-an hingga proses
perjuangan kemerdekaan, setidaknya terdapat dua ciri utama yang secara implisit
dapat diketahui. Ciri yang pertama adalah perjumpaan bersifat kompetitif
bahkan saling meniadakan. Sebagai contoh, perjumpaan umat Katolik (Kristen/Kristiani)
di masa awal menimbulkan sebuah konflik yang cukup berat. Masyarakat lokal yang
mayoritas beragama Islam berjuang menolak keberadaan para pendatang yang
mencoba menyebarkan agama Katolik. Konflik tidak hanya terjadi secara psikis (“perang” argumen), melainkan
juga secara fisik. Mereka berusaha untuk meniadakan satu sama lain demi
mempertahankan kebanggaan dan eksistensi masing-masing pihak. Masing-masing
pihak meng-klaim bahwa kebenaran berada di pihak mereka. Ciri yang kedua adalah
perjumpaan terjadi dalam tataran kaum elit. Konflik yang terjadi di antara kaum
elit ini kemudian dapat mempengaruhi masyarakat yang ada di “bawah”-nya.
Suasana demikian kemudian banyak
mewarnai perjumpaan antara umat Kristen dan Islam di Indonesia. Tanpa sadar,
dengan umat Islam, umat Katolik terikat oleh sebuah sejarah yang panjang dan
penuh ingatan buruk dari kedua belah pihak. Akan tetapi, Konsili Vatikan II
tegas-tegas mengakhiri sikap permusuhan ini. Konsili berbicara secara khusus tentang umat Islam dan iman mereka:
“Gereja juga
menghargai umat Islam”; kita harus “berusaha untuk saling mengerti dan
bersama-sama memperjuangkan perlindungan sosial dan memajukan keadilan sosial,
nilai-nilai moral, dan akhirnya juga perdamaian dan kebebasan bagi semua
orang”.[18]
Dari suasana dan sejarah yang demikian, perubahan dan harapan yang tentu
ingin dibangun dan diwujudkan adalah menjadikan peristiwa perjumpaan bukan
sebagai kesempatan saling meniadakan, melainkan saling merangkul satu sama
lain. Selain itu, proses merangkul satu sama lain hendaknya bukan hanya
dilakukan di antara kaum elit saja, melainkan juga hendaknya dibangun melalui
komunitas-komunitas “akar rumput” yang ada di dalam masyarakat.
Terlepas dari berbagai motif yang melatarbelakangi
timbulnya konflik, rantai kekerasan yang mengatasnamakan agama pada dasarnya
dapat diputuskan, jika kedua belah pihak (Islam dan Kristen) memiliki
keterbukaan hati untuk membangun dialog yang berlandaskan cinta kasih. Berbagai
seminar yang membahas kekerasan atas nama agama, mata pelajaran Islamologi yang
dipelajari di sekolah-sekolah Kristen, pun sebaliknya, didirikannya Forum
Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) yang anggotanya berlatarbelakang agama berbeda
hanyalah sebagian kecil contoh konkret yang dapat dilakukan demi membangun
sebuah dialog. Akan tetapi, perlu diakui juga bahwa hal ini saja belumlah
cukup. Semua pihak mesti berpartisipasi aktif dalam membangun dialog. Oleh
karena itu, membangun dialog tidak hanya dilakukan oleh kalangan-kalangan
tertentu, seperti para elitisi atau politisi, tokoh-tokoh masyarakat, pelajar,
dan para pemuka agama, tetapi juga dan terutama oleh masyarakat “akar
rumput” yang berkutat langsung dalam
praksis hidup harian.
Untuk dapat membangun dialog yang baik antarmasyarakat
warga yang berbeda agama, toleransi perlu dikedepankan. Toleransi yang bertanggung jawab mesti terwujud,
misalnya dalam sikap saling menghormati. Dalam tataran praksis, sikap saling
menghormati ini misalnya dapat ditunjukkan melalui penghargaan kepada salah
satu agama yang sedang merayakan hari raya keagamaannya atau bahkan turut
membantu menjaga keamanan sehingga terorisme dapat ditanggulangi bersama.
Bersilahturahmi dan memberikan ucapan selamat pada hari raya keagamaan tertentu
juga mempererat tali persaudaraan antarpemeluk agama. Di samping itu, perlu ada
kerja sama nyata antarpemeluk agama berupa bahu-membahu dalam menanggulangi masalah-masalah
sosial, seperti bencana alam atau secara bersama-sama memperjuangkan hak asasi
sebagai masyarakat warga ketika ketimpangan ekonomi dan keadilan politik
menggoncang stabilitas negara. Dengan memiliki satu kepala yang berisi berbagai
visi-misi bersama sebagai masyarakat warga, kesan adanya kristenisasi atau
islamisasi, misalnya dengan melontarkan istilah “beras kristen” atau “beras
islam” tidak sungguh-sungguh terjadi. Ketika dialog antaragama sampai pada
taraf praksis seperti ini, tidak mungkin tidak rantai kekerasan atas nama agama
yang mengikat erat penduduk pribumi sekian lama akan terputus.
Nilai yang
Perlu Diperjuangkan ke Depan: Sikap Toleransi Positif sebagai Wujud Nyata
Pembicaraan
mengenai dialog antar umat beragama, dalam hal ini umat Katolik dan Islam di
negara Indonesia, akhirnya merupakan pembicaraan yang memerlukan banyak waktu
dan cukup rumit. Penyebabnya adalah bagaimanapun pembicaraannya, pola pikir
kita tidak akan terlepas dari konsep mayoritas dan minoritas. Fakta menunjukan
bahwa sebagian besar penduduk di Indonesia menganut agama Islam, sementara agama
lain seperti agama Kristen Katolik jumlahnya sangat sedikit. Bagaimana model
dialog yang diharapkan dalam keadaan masyarakat yang majemuk seperti di masa
yang akan datang? Dalam sub judul sebelumnya, sedikit telah disinggung bahwa
sikap toleransi perlu dijunjung tinggi. Berkaitan dengan hal ini, Magnis Suseno
lebih lanjut mengatakan bahwa sikap yang perlu dipelajari oleh setiap orang (umat
Katolik dan Islam) adalah bukan hanya sikap toleransi yang biasa saja,
melainkan sebuah toleransi positif dalam kehidupan bersama. Toleransi positif
berarti bukan dalam arti asal membiarkan saja, melainkan sebagai penerimaan
tulus terhadap saudara dalam kekhasannya, bahkan dalam kelainannya. Sikap toleransi positif
membuat diri menerima yang lain sebagai yang lain.[19]
Masyarakat
plural (perbedaan suku, ras, etnis, agama, antar golongan) seperti di
Indonesia, sangat diharapkan untuk mampu menjunjung tinggi sikap toleransi
positif dan solider dengan sesama, khususnya dalam kehidupan beragama. Dengan
adanya sikap seperti ini, ketegangan-ketegangan dan isu-isu yang ada, yang
mungkin menimbulkan kecemburuan, kecurigaan diantara sesama dapat dihilangkan
dengan dialog yang lebih terbuka. Dialog menjadi cara yang baik untuk
membimbing perilaku dan tindakan setiap orang, dalam hal ini, sikap untuk
bekerjasama dengan orang-orang yang berkeyakinan lain untuk tujuan yang baik.
Dalam tataran Katolik dan Islam, yang diharapkan adalah tidak adanya perhitungan
mana yang lebih berkuasa (di bidang politik, lembaga-lembaga masyarakat, antar
golongan) atau menduduki jabatan tertentu, melainkan adanya kerjasama yang baik
untuk memperoleh kehidupan yang aman dan tenteram. Oleh karena itulah, model
dialog yang lebih terbuka diperlukan untuk dapat membangun kehidupan yang lebih
baik. Dengan demikian, hidup beragama lebih bernilai, dihargai, dan dihormati
satu sama lain.
Di dalam
beberapa tahun terakhir, ada beberapa organisasi atau lembaga di Indonesia yang
patut disyukuri dan diapresiasi terkait pembangunan dialog antarumat beragama. Keberadaan mereka menjadi harapan sekaligus
benteng untuk menciptakan toleransi positif dan solidaritas yang kuat antarumat
beragama. Beberapa contoh lembaga tersebut adalah ICRP (Indonesian
Conference on Religion and Peace atau
Konferensi Indonesia Untuk Agama dan Perdamaian), The Wahid Institute, dan Institute
for Inter-faith Dialogue in Indonesia (Interfidei). Tentu, sekali lagi
harapannya adalah agar dialog yang terbangun bukan hanya antar elit tertentu
saja (pemerintah atau organisasi), melainkan merangkul setiap lapisan dan
golongan masyarakat Indonesia.
Sampai di sini, saling merangkul, toleransi positif, dan
dialog menjadi jalan menuju masa depan yang cerah bagi perjumpaan Kristen dan
Islam. Akan tetapi, pertanyaan mendasar yang muncul kemudian adalah: Bagaimana hal-hal
yang ini dapat menjadi milik dan merasuk (embodied)
ke dalam tubuh setiap pribadi dalam masyarakat Indonesia? Dalam
buku “Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”, Ahmad Syafii Maarif
menyatakan bahwa permasalahan yang terjadi di Indonesia terkait hal ini adalah
masalah pendidikan. Ia menulis bahwa sistem pendidikan di
Indonesia sejak zaman proklamasi tidak pernah mantap[20].
Masalah
dengan tingkat kerumitan tinggi (seperti fanatisme dan konflik antar agama)
tentu tidak dapat diselesaikan oleh orang-orang yang kurang berpendidikan,
karena pemikiran “cetek” sebagian
besar orang Indonesia tidak dapat mencerna inti masalah sebenarnya. Tepat di
situasi tersebutlah peran penting orang-orang terdidik, lembaga-lembaga
pendidikan tinggi, penelitian, bahkan negara diperlukan untuk mengubah
pandangan fanatik tersebut, entah melalui metode pendidikan baru, dialog, atau
bahkan seminar[21]. Dengan kata lain, kunci dari penyelesaian masalah ini adalah
pemerataan dan peningkatan standar pendidikan di Indonesia.
Seiring dengan meningkatnya
mutu pendidikan di Indonesia, pikiran manusia-manusia Indonesia akan lebih maju
dan terbuka. Pikiran yang terbuka tentu saja dapat menerima berbagai macam
perbedaan, yang dalam hal ini akan mengakhiri perselisihan mengenai perbedaan
antara umat Muslim dan Katolik.
Kesimpulan
Perjumpaan antar entitas memang tidak pernah bisa
dihindari selama pluralitas menjadi salah satu fenomena yang terjadi di dalam
kehidupan manusia. Tesis ini pun juga berlaku
di dalam sejarah panjang agama Kristiani. Di Nusantara, secara khusus agama
Kristen mengalami perjumpaannya yang intensif dengan agama Islam, sebagai agama
lokal (dan mayor) yang terlebih dahulu ada di Nusantara. Perjumpaan ini tidak
bersifat statis, melainkan dinamis. Perjumpaan dengan Islam tampaknya menjadi
sebuah drama tersendiri dari sebuah sejarah. Drama
ini memperlihatkan bagaimana sebuah perjumpaan yang pada awalnya dipenuhi
gesekan, kecurigaan, dan persaingan perlahan bergeser
menjadi sebuah kekuatan yang besar untuk menghalau musuh dari luar.
Di awal sejarah
perjumpaan agama Kristen dan Islam di Nusantara, corak perjumpaannya penuh
dengan nafsu untuk saling meniadakan. Kompetisi untuk menjadi pemenang dalam
segala bidang (agama, politik, dan juga budaya) begitu kentara terjadi. Meski
demikian, tidak dipungkiri pula adanya benih-benih kerjasama di dalam perjumpaan
kedua agama tersebut, misalnya ketika era perjuangan kemerdekaan.
Dari sejarah panjang perjumpaan Kristen dan Islam ini,
kita dapat belajar bahwa perjumpaan Kristen dan Islam (atau juga secara umum
dapat dikatakan antar entitas) hendaknya tidak lagi bersifat meniadakan,
melainkan merangkul. Sikap saling merangkul satu sama lain menunjukkan bahwa
setiap entitas itu setara, tidak ada yang lebih tinggi daripada yang lainnya.
Maka dari itu, melalui pendidikan, dialog dan perwujudan sikap toleransi
positif perlu dibangun dan dijunjung tinggi dalam setiap perjumpaan antar
entitas. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh elit-elit tertentu saja, melainkan
juga oleh setiap orang. Dari akar, proses merangkul bergerak sampai ke
pucuk pohon.
SUMBER:
Anonim.
“Buku Meniadakan atau Merangkul? Pergulatan Teologis Protestan dengan Islam
Politik di Indonesia”. http://toko-bukubekas.blogspot.co.id/2013/06/buku-meniadakan-atau-merangkul.html.
Diakses tanggal 14 September 2015 pukul 20.43 WIB.
----------. “International Portrait:
Indonesia (2007)” dalam The Pluralism
Project at Harvard University. http://www.pluralism.org/reports/view/32.
Diakses tanggal 6 September 2015 pukul 15.15 WIB.
Aritonang, J. S. Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2004.
Aritonang, J.S. dan Karel Steenbrink.
A History of Christianity.
Boston-Leiden: Brill, 2008.
Eddy
Kristiyanto, Antonius. Seandainya
Indonesia tanpa Katolik. Jakarta: OBOR, 2015.
---------------------------------.
Khresna Mencari Raga, Mengenang Kehadiran
Fransiskan (di) Indonesia. Yogyakarta: Lamalera, 2009.
Maarif,
Syafii Ahmad. Islam dalam Bingkai
Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah. Bandung: Mizan,
2009.
Magnis-Suseno,
Franz. “Menggalang Persaudaraan: Juga dengan Saudara-Saudari
Muslim” dalam Menjadi Saksi
Kristus. Jakarta: OBOR, 2004.
Osman, Muhamed Fathi (penerj). Islam,
Pluralisme & Toleransi Keagamaan. Georgetown University, 1996.
Septian, Andre. “Syarikat Islam dan Perkembangan
Sejarah Islam di Indonesia”. http://www.academia.edu/9416078/Syarikat_Islam_dan_Perkembangan_Sejarah_Islam_Di_Indonesia. Diakses
pada 25 Agustus 2015.
Suharyo, Ignatius. The Catholic Way.
Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita. Yogyakarta: Kanisius, 2009
[1]
“International Portrait: Indonesia (2007)”, http://www.pluralism.org/reports/view/32.
Diakses tanggal 6 September 2015 pukul 15.15 WIB.
[2]
Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan
Kristen dan Islam di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 20.
[3] Eddy Kristiyanto, Seandainya Indonesia tanpa Katolik (Jakarta:
OBOR, 2015), 20.
[4] Kesembilan wali songo tersebut adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim, Sunan
Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Derajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus,
Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.
[5]
Jan S.Aritonang dan Karel Steenbrink (ed). A
History of Christianity in Indonesia (Boston-Leiden: Brill, 2008), 11.
[6]
Jan S.Aritonang dan Karel Steenbrink (ed). A
History of Christianity in Indonesia, 12.
[7] Eddy Kristiyanto, Seandainya Indonesia tanpa Katolik
(Jakarta: OBOR, 2015), 49.
[8] Mandat ini, menurut pengamat
tertentu, tidak terlepas dari keyakinan dalam Gereja Katolik pada masa itu: extra ecclesiam nulla salus, yang mendorong
Gereja, sebagaimana yang diperintahkan Yesus, mewartakan Injil ke seluruh dunia
(tepatnya ke daerah-daerah yang disebut “kafir” baik karena masih menganut
agama tradisional, maupun telah menganut agama-agama tertentu, seperti Islam),
termasuk Nusantara. Ini antara lain dicatat oleh Ismatu Ropi, Muslims and Christians in Modern Indonesia
(Jakarta: Logos, 2000) mengacu pada artikel Olaf Schumann, “Christian-Muslim in Indonesia”, dalam
Yvonne Yazbeck Haddad e.a (ed.), Christian
Muslim Encounters (Gainesville: University Press of Florida, 1988), 285-7.
[9]
Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan
Kristen dan Islam di Indonesia, 21.
[10] Eddy Kristiyanto, Khresna Mencari Raga, Mengenang Kehadiran
Fransiskan (di) Indonesia (Yogyakarta: Lamalera, 2009), 11.
[11]
Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan
Kristen dan Islam di Indonesia, 26.
[12]
Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan
Kristen dan Islam di Indonesia, 28-30.
[13] Eddy Kristiyanto, Seandainya Indonesia tanpa Katolik
(Jakarta: OBOR, 2015), 63.
[14] Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan
dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah (Bandung: Mizan, 2009), 80.
[16] Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan
Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah, 66.
[17] Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan
Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah, 67.
[18] Lih. Nostra Aetate No.3
[19] Franz Magnis-Suseno, “Menggalang
Persaudaraan: Juga dengan Saudara-Saudari Muslim” dalam Menjadi Saksi Kristus (Jakarta: OBOR, 2004), 151.
[20] Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam
Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah, 214.
[21] Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam
Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah, 197.
Komentar
Posting Komentar