Langsung ke konten utama

Katekese Kitab Suci

KATEKESE KITAB SUCI
Bagian Pertama
a)      Pemahaman Dasar
Pada dasarnya, katekese kitab suci dipahami sebagai komunikasi iman jemaat yang berpangkal pada kitab suci. Dalam hal ini, kitab suci menjadi titik tolak atau fondasi utama dalam membangun komunikasi iman antarjemaat. Lebih lanjut, katekese kitab suci kemudian dikembangkan secara alkitabiah oleh jemaat itu sendiri. Artinya, realitas hidup yang hendak dikisahkan saat berkatekese perlu dikaitkan dengan teks-teks kitab suci yang dibahas dengan memperhatikan konteks-konteks alkitabiahnya, seperti para penulisnya, jemaat yang menjadi pembaca ketika teks itu dituliskan, keadaan masyarakat sekitar jemaat yang berpengaruh, dan hal-hal lain yang melatarbelakangi penulisan serta tafsir yang benar dari suatu teks. Memperhatikan konteks alkitabiah sangatlah penting karena kebenaran tafsir dan aplikasinya dalam kehidupan jemaat membimbing mereka ke arah pengembangan iman yang sehat dan bermutu. Pada akhirnya, karena terkait langsung dengan iman jemaat, katekese kitab suci juga bertumbuh dan berkembang dalam jemaat. Pengalaman pribadi yang dibagikan kepada yang lain saat berkatekese, dengan dilandaskan pada kitab suci, dapat menjadi dan memperkaya pengalaman iman bersama. Dengan demikian, pertumbuhan dan perkembangan katekese kitab suci sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan iman jemaat.
b)     Isi Pokok
Yang menjadi fokus perhatian dalam katekese kitab suci adalah sabda Tuhan yang memuat berbagai peristiwa iman yang membebaskan. Dalam Perjanjian Lama, peristiwa iman yang membebaskan itu tampak dalam peristiwa Exodus, yakni peristiwa pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir secara ajaib. Peristiwa iman ini kemudian bersifat sosial politik dan menjadi tonggak sejarah monumental bangsa Israel sehingga terus-menerus dikenangkan dari generasi ke generasi. Sementara itu, dalam Perjanjian Baru, peristiwa iman yang membebaskan itu terjadi pada kematian dan kebangkitan Yesus. Peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus ini sesungguhnya menggambarkan Yesus Kristus sebagai Al Masih, Sang Pembebas atau Penebus. Ia membawa pembebasan yang universal, yakni pembebasan seluruh umat manusia dari perbudakan dosa. Itulah sebabnya, peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus ini menjadi dasar iman kristiani.
Berpangkal dari dua peristiwa iman ini, katekese kitab suci tidak hanya berlandaskan kata-kata dan ajaran, tetapi juga berbagai peristiwa hidup yang nyata. Hal ini dikarenakan pengalaman hidup itu sangat berpengaruh pada perubahan dan pembaharuan hidup jemaat sehingga dapat selalu dikenang, dirayakan, dan diaktualkan dalam kehidupan mereka saat ini. Dalam hal ini, hadirnya katekese sangat membantu jemaat untuk mengkomunikasikan pengalaman hidup mereka yang, karena dilandaskan pada kitab suci, kemudian menjadi pengalaman iman bersama. Jadi, katekese haruslah berpusat pada peristiwa iman di mana manusia mengalami dipanggil oleh Allah yang menyelamatkan dan menanggapinya dengan iman pula.
c)      Pola Langkah-langkah
Pengembangan langkah-langkah katekese kitab suci sejalan dengan prinsip dasar komunikasi iman jemaat, yaitu memilih tiga langkah dasar yang banyak dipilih oleh Yesus sendiri dalam menghadapi berbagai masalah masyarakat. Ketiga langkah dasar tersebut adalah pertama, dari kehidupan lewat Yesus Kristus ke kehidupan. Langkah-langkah dasar itu harus dimulai dari kehidupan sehari-hari para peserta katekese, lalu dikembangkan dalam iman kristiani yang termuat dalam kitab suci, dan kemudian dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan ‘terang iman’ dari  kitab suci tersebut. Kedua, dari sabda Allah lewat Yesus Kristus ke kehidupan sehari-hari. Dari pengalaman hidup sehari-hari itu, manusia didorong dan belajar untuk berbuat baik. Perbuatan baik itu pertama-tama ditujukan kepada dirinya sendiri, yang kemudian tertular kepada orang lain sehingga berdampak pada kebaikan sosial. ketiga, dari kehidupan lewat Yesus Kristus ke sabda Allah. Pada akhirnya, alasan dan motivasi dalam berbuat baik itu perlu mendapat landasan yang kokoh. Dalam hal ini, kitab suci atau teladan hidup dari orang-orang kudus dapat menjadi inspirasi.
d)     Tujuan dan Peran
Tujuan pokok dari katekese kitab suci adalah memberikan kesaksian tentang Allah Tritunggal sehingga para jemaat pertama-tama mengenal dan karena itu semakin percaya kepada-Nya. Dengan mengenal secara lebih mendalam dan percaya kepada Allah Tritunggal atau berkat imannya itu, mereka dapat memperoleh kehidupan dan sukacita berlimpah. Pada akhirnya, mereka juga diharapkan mampu memberikan kesaksian tentang Allah Tritunggal kepada semua orang, terutama dengan sikap hidupnya yang baik, sehingga semakin banyak orang yang mengenal, percaya, dan akhirnya kembali (bertobat) kepada Allah Tritunggal. Dalam hal ini, peran katekese kitab suci sebagai bagian integral bagi pengembangan iman jemaat sangat diperlukan. Oleh karena itu, katekese kitab suci yang adalah juga bagian pembinaan pastoral gereja perlu dikembangkan secara integral dengan ilmu-ilmu lain yang korelatif dan serumpun.
e)      Eksegese dalam Konteks Kitab Suci
Saat berkatekese, eksegese sesuai dengan konteks kitab suci sangatlah penting. Dengan bereksegesis secara alkitabiah, para peserta katekese memiliki gambaran yang tepat dan dapat menangkap inti pesan yang disampaikan oleh teks-teks kitab suci yang sedang dibahas. Untuk itu, perhatian yang besar terhadap konteks-konteks lain, seperti penulis, penyaksi iman, pendengar, umat, komunitas, dan pribadi amat diperlukan. Kesadaran akan adanya perbedaan dalam konteks-konteks tersebut, misalnya para pendengar ketika teks itu dituliskan dengan para pendengar ketika teks itu dibacakan kembali pada saat sekarang, sangat menentukan dan membantu pemahaman iman umat. Akibatnya, jalan untuk merelevansikan teks-teks kitab suci yang berbicara tentang suatu peristiwa iman tertentu di masa lalu dengan kehidupan iman jemaat dewasa ini pun semakin terbuka lebar. Dengan demikian, jemaat sungguh-sungguh bertumbuh dan berkembang dalam imannya yang tampak dalam buah-buah kebaikan yang mengalir dari sumber roh yang satu dan sama, yaitu Roh Yesus sendiri.

Bagian Kedua
A. Membaca Cermat Kisah Tragis Berjudul “Abai yang Merenggut Nyawa”
1)      Fakta: Noor Anggrah Ardiansyah, anak dari pasutri Karsiah dan Yulisan serta seorang siswa kelas II SDN 07 Pagi Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan meninggal dunia setelah dianiaya teman sekelasnya di RS. Fatmawati pada Juma’at, 18 September 2015 sekitar pukul 18.00 WIB.
2)      Penilaian analisis: Kekerasan yang dialami Ardiansyah terjadi karena keabaian pihak sekolah dalam mengawasi para anak didiknya. Oleh karena itu, pihak sekolah harus bertanggung jawab penuh dan menanggung akibat dari kelalaiannya itu.
3)      Tanggapan simpati atas kejadian:
a)      Seruan perlindungan terhadap anak-anak dari tindakan kekerasan semakin gencar didengungkan oleh pihak-pihak terkait, seperti KomNas Perlindungan Anak.
b)     Lingkungan tempat anak-anak bertumbuh dan berkembang perlu disterilkan dari tindakan kekerasan, baik di rumah, maupun di sekolah dengan memiliki prosedur standar penanganan kekerasan, misalnya.
c)      Anak-anak perlu dijauhkan dari tontonan yang tidak sehat.
d)     Penanaman terhadap rasa kasih sayang terhadap anak-anak sesama perlu ditanam sejak dini. 

B.     Katekese Kitab Suci Menurut Model Pertama
Hendaklah Kamu saling Mengasihi 
(Roma 13:8-14)
a)      Lagu Pembuka; Tanda Salib dan Salam;
b)     Pengantar
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap kali menemukan, menyaksikan, dan bahkan juga terlibat dalam berbagai tindak kekerasan. Tindak kekerasan itu tidak hanya terjadi antara pria dan wanita, orang tua dan anak-anak, tetapi juga terjadi di antara anak-anak itu sendiri. Peristiwa tragis yang menimpa Ardiansyah hanyalah sebagian kecil fakta yang mencuat ke permukaan. Oleh karena itu, untuk meminimalisir atau bahkan menghilangkan samasekali tindak kekerasan di antara anak-anak, kerja sama antara orang tua dan pihak sekolah, misalnya adalah sesuatu yang mutlak perlu dalam proses pembinaan.
Bertolak dari fakta ini, kita juga perlu kembali ke sumber iman kita. Firman Tuhan yang hendak kita renungkan bersama saat ini dapat menerangi hati dan akal budi kita untuk melihat realitas kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Sebagai kaum beriman, kita pun dituntut untuk menumbuhkembangkan sikap saling mengasihi. Saling mengasihi adalah satu-satunya jalan menuju dunia yang damai dan bahagia.
c)      Pernyataan Tobat;
d)     Doa Pembuka
Allah yang Mahatinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hati kami. Berikanlah kami iman yang benar, pengharapan yang teguh, dan kasih yang sempurna. Kurniailah kami juga perasaan yang peka dan budi yang cerah agar kami dapat melaksanakan perintah-Mu yang kudus, yakni mengasihi Engkau dan sesama seperti diri kami sendiri. Demi Kristus Tuhan dan perantara kami. Amin.  
e)      Lagu Pengantar Bacaan; Bacaan Kitab Suci
f)       Mencermati dan Mendalami Teks Kitab Suci
(Setelah bacaan kitab suci, heninglah sejenak untuk meresapi dan mendalami kembali Firman Tuhan yang telah didengar. Setelah itu, ajukanlah beberapa pertanyaan berikut untuk memulai komunikasi atau cerita pengalaman terkait isi bacaan yang sesuai dengan topik pembicaraan katekese.)
g)      Membangun Niat
h)     Doa Umat; Bapa Kami
i)        Doa Penutup ( didaraskan bersama-sama)
Doa Damai st. Fransiskus Assisi
Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan. Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian. Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran. Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan, jadikanlahaku sumber kegembiraan. Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Tuhan semoga aku ingin menghibur dari pada dihibur; memahami dari pada dipahami; mencintai dari pada dicintai, sebab dengan memberi aku menerima; dengan mengampuni aku diampuni; dengan mati suci aku bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya. Amin.
j)       Berkat dan Pengutusan; Lagu Penutup


                                                                                                                           




Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Aku adalah Aku", Arti Sebuah Nama

JURNAL III Kamis, 14 April 2016 “Aku adalah Aku”. Inilah nama yang diperkenalkan Allah kepada Musa. Nama Allah tersebut sebenarnya adalah terjemahan dari “ EHYEH ASYER EHYEH ”. Akar kata EHYEH itu sendiri adalah HYH yang diartikan sebagai “Ada”. Kata “Ada” kemudian merujuk pada waktu yang belum selesai, masa kini dan masa depan (sebentuk imperfek). Dengan demikian, kata ini, dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan secara harafiah sebagai ‘Aku adalah Aku yang sekarang Ada; Aku adalah Aku yang akan Ada. Yang hendak ditekankan di sini sesungguhnya ialah sifat dari Yang Ilahi, yakni yang tidak dapat mengenal waktu. Dengan kata lain, Yang Ilahi itu bersifat kekal. Dalam dimensi kekekalan itu, tersingkap pula sifat misteri dan transendensi dari Yang Ilahi. Kata HYH kemudian berkembang menjadi YHWH. Dalam bentuk orang ketiga, HYH menjadi YIHYEH atau dalam bentuk yang lebih tua ialah Yahweh. Yahweh itu sendiri dapat diartikan sebagai ‘Dia yang menyebabkan apa yang ada’. Segala sesuatu ...

Katekese Dasar

Bagian Pertama: Katekese Dasar 1.1 Beberapa Materi Pokok dalam Matakuliah Katekese Dasar 1.1.1   Pengertian Dasar Katekese Katekese berasal dari kata benda bahasa Yunani katēchēsis; katēchein dengan akar katanya, kat (keluar/ke arah luar) dan echo (gema/gaung). Dengan demikian, secara etimologis, katekese berarti suatu gema yang diperdengarkan atau disampaikan ke arah luar berupa pengajaran lisan yang sistematis. Dalam ruang lingkup kegiatan pastoral, istilah katekese diartikan sebagai karya gerejani, yang menghantarkan kelompok maupun perorangan kepada iman yang dewasa (DKU. 21). Meskipun terpadu dengan karya-karya pastoral Gereja yang lain, kekhasan katekese, yakni sebagai inisiasi, pendidikan, dan pembinaan, tetap dipertahankan (DKU. 31). Dalam beberapa dokumen gereja, seperti Evangelii Nuntiandi (artikel 44), katekese menjadi sarana evangelisasi yang tidak boleh diabaikan, apalagi katekese sendiri berisikan wahyu Allah, misteri Allah dan karya-karya-Nya yang menyela...

Pemaknaan Simbol Liturgis dalam Perayaan Liturgi

PERAYAAN KESELAMATAN DALAM BENTUK SIMBOL [1] Perayaan liturgi sebagai perayaan keselamatan selalu dijalankan dalam bentuk simbol. Dalam perspektif kristiani , simbol-simbol yang digunakan dalam setiap perayaan liturgi itu merepresentasi kehadiran Kristus dan karya keselamatan-Nya. Artikel sederhana ini menyajikan relasi antara simbol-simbol liturgis tersebut dengan perayaan-perayaan keselamatan yang secara implisit menghadirkan Kristus sebagai Sang Salvatore . Oleh karena itu, dalam artikel ini, kami memaparkan dan menjelaskan pokok-pokok penting, seperti perbedaan antara simbol dan tanda, peranan simbol dalam agama-agama lokal, simbol utama dalam liturgi, makna bahasa dalam liturgi, dan pandangan Sacrosantum Consilium terhadap kesenian religius, yang menggambarkan keterkaitan erat  antarkeduanya. Perbedaan Simbol dan Tanda [2] Secara etimologis, kata ‘simbol’ berasal dari kata bahasa Yunani, Sumbolon yang diartikan sebagai tanda inderawi, barang atau tindakan, yang m...